"mau keluar ya mas?"
"Iya, kenapa?"
"dua ribu mas"
"kan nanti di depan bayar"
"Mas baru di sini ya?"
"Iya, kenapa?"
"Ini jatah mas, udah biasa, mas mau keluar ga nih?"- "http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3213213"
Gue heran sm orang Indonesia khususnya di Jakarta yang jelas-jelas gue rasain. Setau gue di Den Haag internet itu gratis satu kota. Gue tanya bokap gue apa alesannya bisa begitu? Menurut bokap adalah 'disana, internet udah menjadi kebutuhan massa. udah sepantesnya pemerintah mengalokasikan subsidi untuk kepentingan umum. contohnya toilet umum. krn kalo nggak ada itu benda, bisa-bisa orang buang air sembarangan. nah kalo internet, mungkin pemerintahnya beranggapan bisnis start lewat internet. sehingga perekonomian negara juga bisa muter.'
See? Dengan penjelasan gitu gue malah pengen meledak ledak rasanya. Kayaknya susah bener dah buat gue nemuin toilet di Jakarta yang nggak bayar, kecuali di pusat perbelanjaan mewah macem mall-mall. Bahkan di bbrp toilet yang pake bak aja, per gayung bisa di tariff-in juga. Anying bgt ya? Segitu mahalnya idup di Jakarta, tapi disuruh pulang kampung nggak mau.
Mungkin emang udah tabiat orang Indonesia kali ya? Lebih suka duduk-duduk manis dan selalu diberi sama orang. Sampe-sampe di lampu merah deket sekolah gua ada pengemis/tukang minta-minta yang mangkal sejak gue SD kira-kira 10 taun yang lalu smp sekarang nggak pindah-pindah. Kontras banget sm para pendemo Boediono yang katanya jual-jualin aset BUMN. Nyatanya kalo di tangan orang Indonesia pun juga nggak bakal serius diurusin. Kenapa nggak sekalian aja kayak orang-orang Timur Tengah yang tinggal duduk manis sementara negaranya sebagian besar diurusin orang lain. Toh, rakyat nya juga nggak makin miskin kan?
Saran gue, kalo nggak kuat benerin mental orang Indonesia yang masih mendewakan uang uang dan uang, mending uang kertas di stop ajalah percetakannya. Bikin kartu kredit aja yang banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar