Hey pals. Maaf ya agak kacau nih belakangan ini. Susah bener cari kesempatan ngepost dan sekalinya ada kesempatan, nggak ada ide. Hehe. Kacau.
Tunda sejenak post tentang evolusi, gue mau cerita kegiatan gue 2 hari selasa lalu. Ketika itu gue sedang beberes kamar yang udah kacau. Setelah diwanti-wanti Ibunda akhirnya gue bergerak juga. Dimulai dari masukin baju ke lemari, kemudian ngelap-ngelap untuk menghilangkan debu (yang ini gagal terlaksana karena si kanebo kw hilang entah kemana), kemudian membereskan meja belajar.
Di meja belajar gue mulai dari merapihkan buku-buku pelajaran. Agak terharu juga liat buku-buku bimbel gue dan buku-buku paket kelas 3 terpaksa menyingkir karena sudah ketinggalan zaman. Aduh siapa ya pemilik kalian setelah ini. Btw, terima kasih banyak atas bimbingannya teman-teman. Tanpa kalian, saya tidka akan seperti sekarang. Tetaplah menjadi gudang ilmu :) Sekarang kalian masuk meja belajar di luar dulu. Akan gue pikirkan nanti ini buku-buku baiknya disumbang kemana.
Kemudian gue berpindah ke tumpukan kertas. Astaga sarang debu. Gue memutuskan mengambil semua kertas yang berhubungan sama kehidupan SMA gue termasuk yang udah pernah gue pack dan masukin dalam map. Bongkar lagi semua dan susun lagi semua. Pelan-pelan gue sortir; kertas kosong, kertas sampah, kertas rangkuman, kertas soal-soal. EH?

I found that. Haha. Soal-soal yang gue bantai dengan penuh ketidakpercayadirian. Hari itu gue satu ruangan bersama salah satu temen yaa lets say lumayan deket lah. Seorang yang... Haha nggak penting terlalu detail. Takut menjadi aib. Intinya seusai ujian beginilah obrolan kami*,
"Er, gimana tadi? Bisa berapa?"
"Aduh nggak tahu deh. Cuma bisa paling sekitar 30an doang (soal 75 ato 72 gue lupa -,-"). Lo gimana?"
"Ooh. Cuma bisa sekitar 45an lah." #weks
"Haha ya mendingan laah daripada gue cuma bisa segitu. Sisanya ngasal lagi. Nggak tau deh."
"Ah, yaa bisa sih lumayan. Tapi kalo buat masuk Kedokteran kayaknya nggak mungkin deh."
"Yah, mungkin nggak mungkin sih ditangan Tuhan ya. Lihat nanti sajalah semoga kita sukses. Amin"
"Amin."
Hati gue remuk redam. Gue cuma bisa mengerjakan nggak sampai 50%. Mau jadi apa gue? FYI, SIMAK UI gue hanya mendaftar satu jurusan dan kalian lebih tau. Lalu nasip kedua soal itu? Jangankan gue buka, gue sentuh pun nggak pernah. Ketika di bimbel orang-orang sibuk membahas soal-soal itu, gue lebih memilih menjauh dan fokus untuk SNMPTN. Gue lebih memilih tutup mata tutup kuping. Gue memilih untuk tidak tahu. Gue sendiri sering bilang ke diri sendiri dan orang lain, "There're things better left unsaid. Ada hal-hal yang kadang kita tidak perlu tahu." Demikianlah nilai yang gue peroleh dalam ujian SIMAK gue nggak pernah tau sampai sekarang. Ya, sekarang. Bahkan setelah soal itu gue temukan lagi, gue belom berani buka, bahkan membahasnya.
Sekarang gue sedang memikirkan nasip soal SIMAK itu. Apakah akan gue simpen tanpa tahu isinya bagaimana untuk waktu yang tidak ditentukan, atau merelakan adik-adik kelas gue yang udah ngantri buat rangkuman dan soal-soal sisa gue yang udah selesai gue pack ulang? Kita lihat saja besok pagi :)
***
Gue akan meninggalkan alamat web rujukan gue buat tulisan gue tentang evolusi (yang belum bisa gue janjikan kapan akan gue tulis). Sekali lagi maaf tidak bisa menepati janji :)
*dialog disesuaikan berhubung tidak ingat dan alasan lain yang tidak dapat disebutkan
itu mas angga er? hha
BalasHapus