ada 11 pengertian berbeda di kamus besar bahasa indonesia dimana gue terlalu males untuk mengutipnya. gue cuma mau berbagi pandangan gue soal kematian.
So far, gue adalah orang yang paling heartless di muka Bumi. Berlebihan mungkin, cuma gue mau menggambarkan bahwa gue adalah orang yang mungkin adalah orang yang paling tidak empati soal kematian. Salah deng. Gue rasa gue justru yang paling empati, tapi paling tidak simpati soal kematian.
Buat gue, hidup mati semua sama aja. Cuma tempatnya aja yang beda. Dunia ini justru fana, cuma sementara, cuma esensinya besar. Gagal di dunia ini, jangan harap sukses waktu mati. Makanya ketika gue liat orang mati, gue cenderung biasa aja dan menganggap 'yak bel telah dibunyikan. saatnya mereka menghadapi hidup yang sebenarnya. yang kekal.'
Gue bukannya nggak takut sama mati, cuma gue lebih takut sama kegagalan di dunia kematian itu tadi. Sementara itu kontradiktif sebenernya sama kelakuan gue selama ini.
Bokap gue baru menyadarkan (lagi) satu hal. Bahwasanya hidup ini harus bermanfaat. Buat diri sendiri, juga buat orang lain. Bagi gue, yang paling mudah dari memberikan manfaat itu adalah senyum. Yessssssss berbagi senyum sama dengan berbagi keceriaan. Orang tentu akan lebih senang ketika melihat orang lain senyum. Membahagiakan orang lain, itulah manfaat. Mungkin itu alesannya di agama gue, senyum dipertimbangkan sebagai suatu ibadah.
Ngomong-ngomong soal mati, beberapa minggu terakhir ini ada 2 berita duka dari 2 orang berbeda tentang 2 cerita berbeda. Keduanya adalah orang yang sangat dekat dalam hidup gue. Mereka berdua sedang berada sangat dekat dengan orang yang tinggal menunggu dipanggil Yang Kuasa. Mereka berdua sudah cukup sering sharing ke gue, dan gue nggabisa berespon apa-apa. Terutama buat salah satu dari mereka yang sebaya sama gue, gue sama sekali nggak punya ide gimana membangkitkan semangat hidup orang-orang seperti itu. Ayahanda menyarankan pendekatan sosio-religius, dimana seperti sudah gue singgung sebelumnya, cukup mengingatkan kepada orang itu tentang bagaimana Tuhan lebih menginginkan orang yang bermanfaat. Sekarang bagaimana jika orang tersebut terlalu keras kepala untuk mendengarkan saran?
Sampai detik ini gue masih putar otak untuk 2 hal. Satu tentang trik-trik membangkitkan semangat hidup tadi, satu lagi tentang persepsi gue soal kematian ini. Yepp gue sendiri sejujurnya merasa salah punya pandangan ini. Gue masih merasa bersalah ketika gue memutuskan nggak hadir pada pemakaman sodara kandung nenek gue sendiri. Gue masih merasa bersalah nggak punya kemauan buat melakukan sholat ghaib yang biasa dilakukan selepas sholat jumat berjamaah di masjid kampus gue.
Gue cuma nggak mau ketika nanti tiba saatnya orang terdekat guelah yang mengalami hal ini, gue justru sama sekali nggak bersimpati, atau justru cuek. Gue takut sama sikap gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar