Shutter speed adalah kecepatan rana membuka. Rana harus terbuka agar cahaya dari luar dapat masuk dan mempengaruhi film (atau sensor gambar. yaudalah udah tau kan? daritadi diulang mulu abis ini bilangnya 'film' aja ya -_-). Sekedar diulang aja, fotografi kan berasal dari kata photo dan graph yang kurang lebih artinya adalah menggambar dengan menggunakan cahaya. Jadi sekali lagi, untuk mendapatkan suatu gambar kita butuh cahaya. Nah sekarang shutter speed ini tadi menentukan seberapa lama si rana boleh terbuka. Terlalu cepat, bisa saja cahaya yang masuk kurang banyak sehingga gambar yang dihasilkan relatif gelap. Terlalu lama, bisa saja cahaya yang masuk terlalu banyak sehingga gambar yang dihasilkan relatif terang. Kadang bisa sampai gambar berwarna putih seluruhnya. Ini dinamakan underexposed dan overexposed. Kedua kondisi ini tidak selamanya salah. Ada beberapa teknik yang justru memanfaatkan kondisi cahaya yang kontras tersebut, sehingga bisa menampilkan suatu gambar objek. Baik atau buruk relatif. Selain overexposed dan underexposed, shutter speed juga menentukan gambar objek yang dapat diciptakan. Terlalu lama objek bisa menjadi blur, seperti pada orang berjalan atau efek 'kabut' pada air terjun. Terlalu cepat objek bisa menjadi jelas, seperti droplet air pada air mancur.
Aperture adalah bukaan lensa. Dia mengatur seberapa banyak cahaya bisa masuk dalam satu stop - satuan untuk exposure, satu kali mengambil gambar. Berbeda dengan shutter speed tadi dimana dia mengatur banyak cahaya dari waktu, kalo pada aperture waktu sudah pasti - yang diatur adalah seberapa besar bukaannya. Ada rumusnya tapi gue males nulis -_- Kombinasi yang tidak seimbang antara aperture dengan shutter speed bisa juga membuat overexposed dan underexposed. Tanpa memperdulikan shutter speed; bukaan yang terlalu besar dapat membuat cahaya yang masuk terlalu banyak, di sisi lain bukaan yang terlalu kecil malah dapat membuat cahaya yang masuk terlalu sedikit. Ngerti kan ya? Selain cahaya, aperture juga dapat mempengaruhi 'depth of field' atau kedalaman gambar yang diciptakan. Maksudnya adalah dalem satu frame, seberapa jauh kita bisa ngambil fokus objek. Semakin besar bukaan, maka akan semakin tinggi 'depth of field'-nya. Contohnya adalah pada pengambilan gambar objek, biasanya dengan bukaan besar akan menimbulkan fokus pada objek tetapi blur pada background. Di sisi lain, pada bukaan yang kecil maka gambar yang dihasilkan akan terkesan lebih 'lebar' dan 'luas'. Pada bukaan yang kecil akan sangat sedikit kemungkinan terjadinya blur pada background - dan memang biasanya lebih sering dimanfaatkan untuk mengambil gambar landscape.
ISO sebenernya adalah singkatan dari International Organization for Standardization dimana organisasi tersebut bikin standar buat kepekaan suatu film. Dulu sering dipake ASA atau DIN. Kepekaan film ini punya nilai. Semakin tinggi nilai kepekaan filmnya, maka akan semakin sensitif terhadap sinar. Artinya pada nilai kepekaan yang tinggi, film tidak perlu di expose oleh sinar terlalu lama dan terlalu banyak. Ini bisa dimanfaatkan pada keadaan ruang tertutup yang minim cahaya, atau pada malam hari. Dan karena lebih peka, maka gambar yang dihasilkan akan lebih berwarna. Sialnya, pada nilai ISO yang lebih tinggi biasanya akan timbul noise pada gambar. Yaitu kayak apa ya pokoknya gambarnya jadi terkesan 'kasar' gitu. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi setiap gambar yang dihasilkan, nggak ada gambar yang jelek.
Teori ini gue dapet dari magang organisasi seni film di kampus gue. Sialnya gue udah gagal bikin gambar-gambar bagus pada malam hari di suatu tempat remang-remang. Hhh I wish I had known this theory bfore that night tapi yasudalah haha. Selamat mencoba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar