Sabtu, 31 Maret 2012

Suara


Nggak sampai sejam yang lalu, baru saja terjawab heboh-heboh masyarakat selama sekitar seminggu terakhir ini. Yepp keputusan Sidang Paripurna DPR RI mengenai Perubahan Regulasi APBN (apapun, gue juga ngga terlalu merhatiin judul persisnya apa) baru saja disahkan. Sidang ini diadakan karena pemerintah mengajukan permohonan perubahan harga BBM, yang sudah ditetapkan di APBN pada sidang awal tahun 2012 ini, berdasarkan fluktuasi harga minyak dunia. Ya karena tadi itu sudah diatur, jadi untuk merubahnya harus lewat mekanisme sidang juga.

Seperti biasa, setiap sidang disiarin di televisi, wah kelihatan deh rusuhnya. Semua semau-maunya sendiri. Banyak terdengar celetukan ngga penting dengan bahasa yang tidak "elit", yang sebenernya agak mengecewakan mengingat mereka wakil rakyat. Speaking of sidang, gue udah pernah cerita belum sih tentang hal yang serupa kira-kira setaun lalu? Well apapun, kurang lebih sama lah dan keadaannya emang ngga begitu menarik untuk ditonton.

Sepanjang minggu ini sudah rusuh dimana-mana. Dari sisi masyarakat, beberapa kali udah terjadi aksi demonstrasi selama seminggu ini. Kalo dari selain mahasiswa gue pribadi sih belum menemukan ada keluhan, yaaa paling dari pekerja angkutan umum. Sementara seperti u dah gue ceritain tadi, udah ada beberapa demonstrasi seminggu ini, dan nggak sedikit yang berakhir ricuh. Gue juga ngga ngerti ya sebenernya kenapa harus sampe ricuh. Karena bahkan dari mahasiswa sendiri gue juga ngga paham apa tuntutannya. Yaa gue ngga berniat bahas itu disini, jadi lets skip it aja. Dari sisi politik, DPR sudah pecah dua kubu. Partai Demokrat yang "memenankan" pemilu kemarin, tentu saja pro pemerintah. Sudah jadi "tugasnya" mendukung pemerintah - ya tentu saja mengingat pemerintahnya juga orang demokrat yang ngatur. Nggak mungkin kan, keputusan pemerintah keluar tanpa diomongin dulu dengan partainya? Sementara itu sisanya, termasuk beberapa partai koalisi, tidak mendukung kebijakan ini, terutama dalam hal harga BBM. Atas nama rakyat, kata mereka - bukan kata saya, kenaikan harga BBM akan merugikan rakyat. Dampaknya memang kemana-mana sih.. Harga bahan makanan naik, biaya lain-lain jadi ikutan naik juga. Ina kakak kelas gue malah tadi siang curhat soal harga makanan kucing yang ikutan naik juga. Noraknya, padahal harga BBM belum naik, tapi itu makanan udah naik. Kasihan kucingnya Ina jadi belum makan.

Yak balik lagi ke pembicaraan sebelumnya, akhirnya setelah berputar-putar tidak karuan maka disahkan-lah bahwa DPR menyetujui perubahan regulasi APBN, sehingga dalam hal ini berdampak pemerintah memiliki hak untuk merubah harga BBM dengan ketentuan tertentu - yang gue sendiri nggak hapal. Berteriaklah pasukan jaket kuning di balkon dengan teriakan-teriakan yang, katanya, pro rakyat. Entah isinya apa, yang jelas mereka sampe diseret keluar oleh, pamdal, keamanan gedung DPR. Mahasiswa UI adalah satu-satunya kelompok massa yang diperkenankan masuk dan duduk bersama anggota DPR yang sedang rapat disitu. Dalam hal ini, tujuan utama mereka adalah untuk 'mengawal' sidang agar tidak melenceng dari aspirasi rakyat. BEM UI sendiri selama beberapa jam terakhir terlihat asyik berdemonstrasi di pintu barat DPR - tanpa anarkis. Terlihat beberapa update tweet mahasiswa UI yang sedang berorasi, ada juga yang berbincang-bincang dengan polisi. Ah sangat demokratis. Senang melihatnya. Berbeda dengan suasana di pintu utama gerbang pemuda DPR. Demonstrasi berlangsung ricuh bahkan dikabarkan gerbang DPR rusak. Macam mana.. Di titik-titik lain di Jakarta juga sempat terjadi kericuhan bahkan dengan bom molotov. Agak curiga ini mahasiswa atau tentara negeri seberang, bisa punya senjata begini. Di sisi lain, dari ruang rapat, PDIP dan Hanura atas suatu alasan menyatakan walk out dari ruang sidang. Mengingat pendapatnya yang tidak setuju, hal ini justru menjadi aneh karena terkesan pengecut, apapun alasannya. Sangat berbeda dengan PKS yang bersikeras duduk menyampaikan pendapat meskipun tahu bakal kalah suara.

Suara. Ini inti dari tulisan gue yang panjang lebar gak jelas ini. Ada yang pro ada yang kontra. Gue pribadi menilai kenaikan BBM sah-sah saja dilakukan, terutama apabila alasan utamanya adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi. Jika ditilik lebih dalam, bahkan harga BBM Indonesia saat ini masih jauh lebih murah dibandingkan negara lain di luar negeri. Maka jika memang benar-benar diperlukan, seharusnya kenaikan BBM tidak menjadi masalah - toh persentase subsidi tidak berubah. Ironisnya, BBM bersubsidi ini justru ikut-ikutan dinikmati juga oleh orang-orang yang tidak sepatutnya mendapat subsidi. Maka jelaslah perubahan harga seharusnya tidak menjadi masalah, dan alangkah baiknya apabila diikuti dengan pengetatan regulasi penjualan BBM bersubsidi. Lebih ironis lagi, subsidi selama ini datang dari uang rakyat juga. Kenyataannya yang terjadi selama satu minggu ini adalah pengerusakan fasilitas yang juga datang dari uang rakyat. Mobil brimob, motor polisi, pagar gedung DPR, kebersihan jalan - semuanya datang dari uang rakyat dan semuanya harus rusak "hanya" gara-gara rakyat tidak sudi mengeluarkan uang lebih banyak. Well, gue rasa setelah ini uang kalian akan keluar lebih banyak ke arah pemborosan (terhadap sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan). Gue bukan pengamat politik yang tahu persis setiap detail data, dan pada akhirnya pun gue tetep berusaha netral. Dengan demikian besarnya gelombang penolakan, mungkin ada baiknya pemerintah juga lebih berhati-hati dan agar berhemat disegala sektor yang memungkinkan.

Lain lagi cerita di ruang sidang. Walk outnya dua partai oposisi justru menurut gue adalah tindakan yang kurang cerdas. Oke mungkin secara prinsip sudah beda, selain itu mereka juga menyorot etika sidang. Ya gue ngga pinter untuk masalah ini, jadi ya bicarakan sendiri saja yaa. Yang gue tau, kalo emang ada yang salah dengan etika sidang, selesaikan saat itu atau skors untuk ditinjau oleh struktur lain di luar yang sidang. Lanjut lagi, dengan keluarnya mereka, maka secara otomatis dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi yang menggiring "suara rakyat" di dalam ruang sidang. Iya dong, dengan walk out berarti bahkan abstain pun tidak, kan? Mereka semakin terlihat pengecut - seolah-olah sudah pasti kalah ya keluar sajalah. PKS lebih cerdas dengan tetap duduk dan berkoar-koar mereka akan bertahan, sebuah strategi kampanye 2014 yang sangat menarik. Dengan ini orang akan lebih melihat bahwa PKS akan tetap berjuang dan berada bersama rakyat sampai mati, tidak khianat. Unik sih.

Yaa terlepas dari itu semua, setiap suara pasti ada makna dibaliknya. Setiap yang diucapkan pasti ada tujuan yang diharapkannya. Bagi rakyat sendiri, naik atau tidak harga BBM itu menurut gue tidak akan dirugikan - asal bisa dilihat dari sisi yang lain. Dengan naiknya BBM, mungkin akan lebih banyak orang yang sadar untuk tidak menghambur-hamburkan subsidi. Dengan tidak naiknya, maka perekonomian keluarga pun akan tetap stabil. Harusnya bila bisa diterima dengan lapang dada, semua ada hikmahnya. Mahasiswa yang selama ini berteriak berorasi mengutarakan pendapat, sebenarnya adalah wakil rakyat yang sejujur-jujurnya. Mereka adalah orang yang sangat dekat dengan masyarakat, mereka menyampaikan aspirasi tanpa siasat. Pada kenyataannya, memang sikap yang diambil bisa berbeda. Namun percayalah, suara mahasiswa, merupakan suara rakyat. Apapun sikap yang diambil, semua tentu saja telah melewati proses yang panjang. UI contohnya. Melalui berbagai kajian yang telah dilakukan, tidak sedikit yang mendukung pemerintah. Namun apakah lantas kami diam saja dan tidak melakukan apa-apa? Tidak. Kami tetap datang untuk mengawal aspirasi rakyat. Kembalinya kami ke masyarakat, berarti adalah waktunya kami menjalankan tugas untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana hasilnya dan bagaimana kita harus menyikapinya. Anyway, dengan beberapa aturan memang sepertinya BBM tidak akan naik harganya dalam waktu 6 bulan ini. Namun alangkah baiknya, kita mulai bersiap diri. Kita nggak tahu apakah diluar sana masih aman paling tidak seminggu ini, serta siapkan juga untuk mulai berhemat.

Perasaan menang atau kalah, dapat atau tidak dapat, sesungguhnya hanya bisa dinilai oleh diri sendiri. Hanya, jangan lupa untuk bersuara. Nyatakan pendapat. Dengan demikian kita semua akan mengerti. Dan demi Indonesia, kita semua akan semakin satu. Bersuaralah, yang baik, dengan sopan, dan bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar